Pudarnya Pesona Makanan Tradisional
"Makan dimana nih bro?!"
"Terserah deh, NGGAK enak gpp yg penting MAHAL"
Itulah candaan saya bersama kawan2 saya ketika mencari tempat makan. Mmmm..
Dulu sewaktu saya masih berseragam putih-biru (baca: esempe) guru biologi saya, kalo nggak salah namanya Bu' Muji (konon katanya bila kita masih inget nama guru2 kita, sedikit banyak kita juga masih inget apa yg telah diajarkannya dulu). Guru biologi saya menjelaskan mengenai rantai makanan, dan dijelaskan pula bahwa ada 3 jenis makhluk hidup berdasarkan makanannya. Ada Herbivora atau pemakan tumbuhan dan Karnivora (pemakan daging). Diantaranya keduanya ada Omnivora, makhluk hidup pemakan segalnya. Omnivora yg dimaksud bukanlah pemakan segalanya dalam arti harfiah. Omnivora disini artinya makhluk hidup yg biasa mengkonsumsi daging dan tumbuhan. Beruntung sekali kita sebagai manusia yang berada dipuncak rantai makanan. Manusia itu makhluk yang luar biasa, manusia bebas memilih untuk mengkonsumsi segala jenis makhluk idup yang disukainya. Mulai dari hewan seperti sapi, ayam, bekicot, codot atau tumbuh-tumbuhan seperti kangkung, bayam, kecubung, eceng gondok, dll. Hebatkan kawan!
Mengkosnumsi makanan pastilah memilki tujuan. Daging penting untuk perkembangan fisik tubuh kita karena kaya akan protein. Sedangkan tumbuhan mengandung nutrisi dan vitamin yg bagus untuk daya tahan tubuh. Katanya sich begono.
Sebagai orang yg hobi makan, saya sangat beruntung lahir dan dibesarkan di Indonesia, bermacam budaya yg ada di Indonesia telah melahirkan berbagai macam citarasa makanan, minuman, serta jajanan. Tiap daerah memiliki citarasa makanannya sendiri. Misalnya masakan daerah Sumatera yg kaya rempah dan cenderung pedas, berbeda dengan masakan Jawa Tengah yg cenderung manis, atau Jawa Barat yg khas dengan lalapan sayur segar lengkap dengan sambal mentahnya.
Tapi kini saat kita membuka mata dan melototi pada realitas yg ada (cia ela gaya loe tong), yang terlihat adalah budaya kosmopolitan yg sedikit demi sedikit tapi pasti telah menguasai kehidupan sosial bangsa kita. Liat saja waralaba-waralaba makanan amerika dan eropa tumbuh subur bak jamur dimusim ujan. Kaum muda-mudi lebih memilih nongkrong di Pizza Hut ketimbang makan sayur asem buatan ibu mereka sendiri. Anak remaja kini lebih mengenal chese burgernya McD ketimbang getuk or tiwul. Masih ingatah kita pada jajanan tradisional yg rasanya alami, sederhana, namun lezat. Sedikit demi sedikit makanan lokal kita kalah populer dgn hadirnya makanan kaum kapitalis yg mampu membius, merayu, membisik dalam kemasan manis dengan paket lifstyle modernya.
Waspadalah..waspadalah..waspadalah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar