
Hanya sebuah cerita.... ;-)
“Sesungguhnya Allah disisi-Nya ilmu (tentang) kiamat, dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa-apa dalam rahim dan tiada seorang mengetahui apa yang akan dikerjakan besok dan tiada seorang mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti”. (Luqmaan :34)
-------------------------------------------------
R e u n i
Reuni dengan teman-teman lama 'tanpa direncanakan' selalu bisa memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Apalagi setelah berpisah dua puluh tahun dengan teman-teman kuliah. Dua puluh tahun yang lalu, berbagai cerita disampaikan oleh masing-masing teman. Setelah puas mengomentari penampilan fisik masing-masing, "Kok berubah drastis? Kok muka kamu masih yang sama, belum ganti casing? Beda banget kamu sekarang, makin oke aja? Kamu tambah dekil aja? Wah, udah jadi bos nih? Waduh, penampilan kamu kaya dewi persik deh.!!! Rambut kamu taruh dimana? Badan melar gitu kok ya nekat pakai baju ketat" dan lain-lain.
Dilanjutkan dengan bertanya bagaimana kabar masing-masing, sudah punya anak berapa? Istri baru satu? Bagaimana pekerjaan? Kok belum nikah-nikah (mungkin aja)? dan lain-lain. Percakapan dengan tidak terasa mengalir begitu saja.
"Gimana kabarnya si Ita, ada yang tahu nggak?"
Tiba-tiba ada yang bertanya tentang seorang teman yang jadi 'bunga kelas'
karena kecantikannya dan menjadi rebutan banyak 'kumbang' termasuk kami-kami ini.
"Lho, dia kan udah meninggal setahun yang lalu karena penyakit ginjal. Cukup lama lho dia menderita karena harus cuci darah seminggu dua kali."
Seseorang menyahut Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Diam-diam saya bersyukur nggak 'jadian' sama dia. Soalnya dia juga nggak mau sama saya sih!
"Eh, tahu nggak. Si Ani sekarang tinggal di Australia lho!"
"Lho kok bisa? Apa suaminya disekolahkan lagi? atau disana dia 'ngangon' kangguru?”
"Hi...hi..! Nggak tahu ya! Dia kan udah cerai dengan suaminya yang lalu dan lantas kawin sama bule asal Australi."
"Haa..?! Saya tidak bisa menahan rasa terkejut saya. Bagaimana mungkin teman yang dianggap pasangan paling ideal waktu itu bisa cerai, kemudian kawin dengan bule dan tinggal di Australi. (Lantas bagaimana dengan anak dan suaminya ya? Padahal suaminya baik sekali lho!)
"Eh, tahu si Anu nggak.. dia sekarang udah jadi pejabat penting di Departemen Perhubungan lho. Kalau mau ketemu Menteri Perhubungan mesti lewat dia katanya."
"Ha..?! Anak 'klemer-klemer' gitu bisa jadi pejabat penting?!"
Surprise. Padahal dulu saya 'meramal' teman yang satu ini bakal kesulitan dalam kariernya. Lha wong kemampuannya pas-pasan dan penampilannya 'ndeso' gitu. Tapi..nasib orang siapa tahu?
"Masih ingat si Joni? Dia sekarang udah hampir menyelesaikan program Doktornya lho!
"Ha.?! Bagaimana bisa ? Dulu diakan hampir drop-out karena nilainya ancur-ancuran?!
"Ya, setelah lulus ia lalu melamar jadi dosen di luar Jawa. Disana kariernya melaju dengan mulus. Ia sekarang jadi Ketua Jurusan"
Another surprise. hampir tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa teman yang satu ini akan berkarir jadi dosen. Bagaimana mungkin, sedangkan jadi mahasiswa saja dulunya dia kami anggap 'tidak layak' saking rendahnya prestasi akademisnya. Tapi sekarang... hampir menyelesaikan program doktornya. What a surprise!
Ternyata bukan hanya dia yang berkarir jadi dosen. Ada empat teman lainnya yang berkarir sama di berbagai PTN bergengsi di berbagai kota. Dan hampir semua dari mereka justru teman-teman yang tidak memiliki prestasi akademis!
“Oh iya, tau nggak? Sampe sekarang si Mail masih betah aja jadi artistik, padahal dulu dia ngebet banget pengin jadi artis. Kata dia; "Walaupun sebagai pemain figuran, yang penting bisa masuk tipi". Mail...mail....apa enaknya sih jadi artis. Tapi profesi antara artis dan artistik cuma beda dikit kok, kalo artiskan kerjanya syuting tapi kalo artistik kerjanya seting. (Asal jangan jadi sinting aja gara-gara nggak kesampean jadi artis. Wakakak ngok!!!)
Salah seorang diantaranya bahkan begitu pendiamnya sampai kami beri nama sebutan 'Gong', kalau tidak dipukul tidak berbunyi. Kok bisa-bisanya ia jadi dosen dan ngajar di depan kelas! Dunia memang penuh kejutan.
Sejenak kami kemudian saling olok karena ternyata karier kami yang dulunya punya prestasi akademik lebih baik ternyata tidak secemerlang teman yang dulu kami anggap 'di bawah anjing' alias 'underdog' itu.
"Si Fulan gimana kabarnya? Ada yang tahu, nggak" Si Fulan ini 'the brightest student' di angkatan kami dan merupakan kebanggaan kelas kami "Kasihan lho dia. Setelah keluar dari bank karena rasionalisasi dan bertahun-tahun nggak punya pekerjaan tetap sekarang dia terpaksa menerima pekerjaan ngajar mulai Subuh hingga Isya'"
"Ha.!" Kami sejenak terpana membayangkan betapa nasib 'menelikung' teman yang 'bright' ini. Dulu rasanya kami semua yakin bahwa ia pasti akan memiliki masa depan yang cerah karena kepintarannya. Ia dengan mudah diterima bekerja di bank terkenal dan kariernya meroket. Terakhir ia menjabat sebagai kepala cabang dan kariernya amblas setelah bank tersebut kena likuidasi. Ia mencoba melamar ke bank-bank lain tapi prospek perbankan ternyata tidak bersahabat lagi dengannya. Dengan sisa-sisa tabungannya
ia mencoba bertahan sampai akhirnya ia harus menyadari bahwa ia harus bekerja apa saja. Mengajar bahasa Inggris privat dan di sekolah-sekolah swasta mungkin adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Seorang teman lain yang juga memiliki prestasi akademik tinggi ternyata nasibnya juga tidak bisa dikatakan cerah. Kariernya datar saja, termasuk kemampuan finansialnya. Ada juga seorang teman yang termasuk 'Top Gun' yang bekerja di BUMN dan memiliki karir cerah tapi mendapat masalah dalam kehidupan keluarganya.
Want to hear another surprise? Seorang teman yang kami panggil 'Pak Kyai' saking alimnya ternyata kecantol dengan 'santri'nya dan membuat keluarganya berantakan. Padahal dulu dia selalu menasihati saya agar jangan mempermainkan hati wanita, kalau dia lihat saya sudah mulai pedekate pada gadis lain.
(Dalam hati saya istighfar berkali-kali). Kok bisa ya.?!
Dua puluh tahun waktu berlalu dan begitu banyak peristiwa terjadi. Hidup memang penuh dengan kejutan yang tidak terduga. Saya masih juga sulit untuk mengerti bagaimana nasib bisa mempermainkan hidup kita. Padahal dulu saya iri banget pada teman-teman yang 'sempurna'. Otak encer, tongkrongan yahud, duit berlimpah, pergaulan luas. Everything was so easy for them. Eh., kok ya sekarang di 'sliding tackle' sama nasib.
Kira-kira gimana ya nasib saya dan Anda, 20 tahun mendatang??? Mudah-mudahan saja nasib tidak turut 'menjegal' saya dan Anda semua...Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Amin...
yudi_tukang cukur kumis lele
Tidak ada komentar:
Posting Komentar