Nama Panggilan (Nama Beken)
Nama panggilan memang sudah menjadi fenomena sosial atau budaya. Apalagi di Djakarta yang orang-orangnya suka me-melesetkan sesuatu (mungkin lebih tepatnya ngecengin/mengejek or apalah...). Coba perhatikan, berapa banyak orang di sekitar kita dipanggil dengan sebutan yang sama sekali ga ada hubungnnya dengan nama aslinya.
Dulu gue berpikir, untuk apa sih kita mempunyai nama panggilan seperti itu? Kasiankan orang tua kita sudah susah payah memberi nama. Tapi gue semakin sadar, nama panggilan punya arti lebih dari sekedar memudahkan atau mengejek. Pasti ada alesan kenapa nama seindah Virgiawan Listanto bisa dipanggil Iwan Fals, yang justru karirnya di dunia musik semakin diakui.
Ada seorang temen yg mau maen kerumah gue, saat temen gue bertanya dimana rumah gue sama warga sekitar. Kurang lebih percakapannya sbb:
temen gw: "Rumahnya Yudi dimana ya?"
warga sekitar rumah gw: "Yudi? Mmm...Oooh, si Tile ya?"
temen gue: "..."
Atau saat gue ketemu temen lama gue dipesbuk
gue: "Woi, apa kabar loe?" Masih inget ga ma gue?"
temen gue: "Loe yudi tilekan?"
Gue pribadi juga ga tau pasti, kenapa gue dipanggil "Tile" (dan yang pasti tidak akan menarik buat diceritain disini). Tapi entah kenapa, nama panggilan itu membuat gue merasa diakui sebagai bagian dari sebuah komunitas, sebuah tanda sayang yang akhirnya menjadi lebih penting dari nama sendiri. (segitunyakah!!?)
Dikeluarga gue pun, masing-masing punya nama panggilan. Kakak gw yg ke-1 dipanggil "Mennur", yg ke-2 dipanggil "Kuple", yg ke-3 dipanggil "Katok", dan kakak gue yg ke-4 dipanggil "Bodhin" (keluarga yg aneh...hehehe). Keponakan guepun yang nama aslinya Wisnu Adi Nugroho (5 th) gue panggil dengan sebutan "Ucup". Bukan karna mukanya mirip ucup di bajaj bajuri, tapi emang ponakan gue yang satu ini suka iseng bin jail. Bayangin aja, antena kabel radiotape gue digunting tanpa rasa bersalah sama sekali. Tembok kamar, buku2 koleksi gue, sampe seprei tempat tidur gue pun juga jadi korban corat-coret tanganya. Terkadang keponakan gue juga sering ngerjain gue pake hp bokapnya dengan menelepon kerumah. Pas gue angkat, ternyata telponnya dari dia yg lagi ketawa ketiwi dikamar. Gue cuma bisa pasrah dan gondok 10 kg (namanya juga anak2).
Waktu STM, nama julukan yang tadinya barang hina bertukar status menjadi lambang gengsi dan prestise. Senior2 yang punya nama julukan adalah orang2 yang kerap ditakuti, dan julukan mereka itulah yang akhirnya melegenda sampe ke angkatan bawah. Beda banget sama gue yang termasuk dalam kelompok cemen bin cupu tanpa julukan.Tapi, paling tidak gue bersyukur, biasanya temen2 STM gue yg punya julukan harus mengalami nasib yg cukup tragis (akibat tawuran). Ada yg mata kirinya buta kecolok bambu, palanya bocor kena batu/kena gesper, ke bacoklah atau dikeroyok STM laen sampe mukanya penyok. Bahkan waktu gue baru masuk, salah seorang senior gue ada yag mati kebacok.
Mungikn itulah kenapa nama panggilan menjadi begitu istimewa. Nama lahir adalah identitas yg diberikan orang tua kita, tapi nama panggilan adalah identitas yang kita capai sendiri, yang terbentuk dari cerita-cerita dalam hidup kita, sipat kita, ciri khas kita, komunitas kita, kejadian penting dalam hidup kita. Ia terasa lebih akrab dengan kita, dan karenanya membuat kita lebih deket dgn kehidupan kita sendiri. Dan gue juga yakin kalo loe-loe semua pasti juga punya nama panggilan.
Maret 2009
yudi_tukangcukurkumislele
ditemani lantunan musik dari Andra dan Tulang Belakang–Hitamku (enak juga nih lagu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar