Penyakit Jiwa!!!
Penampilan mencerminkan sikap, begitu kata pakar psikolog. Yap, baik sikap, kepribadian, ataupun karakter seseorang memang bisa diliat dari bagaimana cara dia menampilkan dirinya. Kok bisa? Ya bisa saja. Sebab, masih kata psikolog, penampilan adalah refleksi paling real dari watak asli seseorang. Nggak hanya itu, penampilan seseorang juga bisa mencerminkan cara berpikir, status sosial, bahkan tingkat moralitas-religiusnya, lho!
Tentu saja, yang terakhir itu ga mutlak. Sebab yang pakai baju gamis itu belum tentu bermoral tinggi seperti juga yang memakai baju lusuh belum tentu bermoral bejat. Terlalu naif memang menilai moral seseorang hanya dari cara berpakaiannya.
Kenal Mahatma Gandhi? Pemimpin besar India itu kerap memakai celana kolor sehingga oleh Presiden Churchil, ia pernah disebut "Si Fakir Bugil". Tapi kemudian dunia mengakuinya sebagai pemimpin yang bersahaja. Dan dalam kebersahajaannya itu , ia menyimpan cinta, yang kemudian meruntuhkan kolonialisme Inggris di India.
Atau tengok juga pemimpin-pemimpin lain yang berjas safari licin dengan jam tangan rolex yang melingkar dilengannya dan mungkin dengan cerutu dibibirnya. Kebanyakan kita tahu, jenis manusia apa mereka ini: yang terbang sendirian meninggalakan jutaan orang yang mengidap busur lapar!
Begitulah, busana seseorang memang bisa menjadi cermin kepribadiannya. Meski sekali lagi, tidak mutlak. Nggak hanya itu, busana pun bisa menjadi indikator tingkat moraitas suatu zaman. Di tahun 70-an, ketika rock n roll menggila, banyak orang memakai baju ala hippies. Busana yang 'in' saat itu adalah busana yang mendobrak formalitas, bahkan etika. Saat itu memang sedang terjadi revolusi etika. Anak-anak muda saat itu mengekspresikan kekecewanan mereka terhadap kemampanan yang kaku dengan memakai baju yang sama sekali nggak formal.
Dan......sekarang hal itu kembali terulang, meski dengan konteks yang sama sekali beda. Sudah bukan rahasia lagi kalo temen-temen gadis kita mulai berani membuka paha, ketiak, bahkan pusar mereka. Pakaian super ketat menjadi komoditas yang paling laku dan digemari. Konon, dengan dada dan pinggul yang menonjol keluar, dengan pusar yang terbuka, mereka merasa lebih percaya diri. Barang kali kita meski bertanya ke psikolog, apa hubungan antara aurat dan rasa percaya diri? Yang pasti pakaian-pakaian ketat jika dipake, mirip karung beras bulog.
"Mereka yang hobi memakai pakaian-pakaiana ketat , dengan dada menonjol dan pinggul yang menyembul keluar seperti bisul, atau yang terbuka dibagian pusar dan ketiaknya, setidaknya mengidap 2 penyakit kejiwanaan." Pertama, mereka mengidap penyakit yang dalam bahasa psikologi disebut mencintai diri sendiri secara berebihan. Mereka menyukai bentuk tubuhnya dan berharap orang lain juga menyukainya. Karena itu mereka lantas memakai pakaian yang bisa mencetak dengan jelas bentuk tubuh mereka. Kedua, mereka juga mengidap eksibisionisme, penyakit kejiwaan yang membuat orang merasa senang jika membuka aurat didepan umum. Kalo adaayang membuka aurat dipantai, itu bukan eksibionisme , karena tempat dan kondisinya tepat.Tapi kalo ada yang sengaja membuka dan memamerkan pusar, paha, dan ketaknya di mall-mall atu ditempat umum lainnya, tidak diragukan lagi mereka itu mengidap penyakit jiwa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar